Dalam Text Kuno Tamil Manimekalai dituliskan perjalanan seorang Biksuni ke Kerajaan Jawadwipa pada abad ke-2/3, yang mana saat itu dipimpin oleh PunyaRaja anak dari BhumiChandra, Nama Ibukota kerajaan Jawa tersebut adalah Nagapuram atau "kota para Naga". Text Tamil tersebut adalah bukti penting tentang adanya kerajaan Besar Di Jawa tempat Para Naga (Nagapuram), pada era sebelum abad ke-4, dimana kerajaan ini lebih tua dari kerajaan Gunung (Fu-nan). Dalam catatan Tamil Raja Kerajaan Jawa abad ke-2/3 ini dikenal sebagai pengikut Indra yg juga dikenal sebagai Vajradhara (Pemegang Petir), dan bisa dikaitkan dengan "Vajradhara" pada prasasti Lumbung. Keberadaan Nagapuram juga bisa dikuatkan lewat
Lihatlah gambar ini. Ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan cetak biru kecerdasan leluhur. Di abad ke-8, ketika bangsa lain masih bergelut dengan struktur kotak sederhana dan nalar yang terbatas pada bertahan hidup, leluhur Nusantara sudah mampu menerjemahkan kosmologi alam semesta ke dalam 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha di Borobudur. Ini adalah bukti otentik bahwa kita bukan bangsa kelas dua. Kita adalah bangsa arsitek, matematikawan, dan filsuf ulung. 💥Paradoks Sang Pewaris💥Namun, ada sebuah ironi besar yang sedang menjangkiti bangsa ini. Kita adalah anak cucu dari para pembangun mahakarya yang mendunia, namun hari ini kita justru kehilangan rasa percaya diri.
Sejujurnya, narasi yang menyebut Salakanagara sebagai kerajaan tertua di Nusantara lebih terasa sebagai “dongeng” daripada hasil kajian sejarah. Masalah utamanya terletak pada fondasi sumber yang digunakan yang justru masih diperdebatkan. Sumber satu-satunya Salakanagara adalah Naskah Wangsakerta. Namun, dalam dunia akademik, naskah ini sudah lama menjadi kontroversi. Sejumlah sejarawan meragukan keabsahannya karena berbagai alasan mendasar. Pertama, hasil uji laboratorium terhadap material kertas pada naskah-naskah ini menunjukkan kemungkinan berasal dari abad ke-19, bukan abad ke-17 seperti yang diklaim. Kedua, narasi tentang ribuan cendekiawan dari seluruh Nusantara yang berkumpul di Cirebon selama 21 tahun untuk menyusun naskah tersebut dianggap tidak realistis, terlebih karena