
YOGYAKARTA – harmonyindonesia -- Eucharistic Youth Movement (EYM) Indonesia di Yogyakarta sukses menggelar Retret Ragawidya'25 yang berlangsung selama empat hari, mulai dari tanggal 3 hingga 6 November. Kegiatan intensif ini diikuti oleh 45 peserta dari kalangan siswa-siswi SMP kelas 7 dan 8, termasuk perwakilan dari SMP Pius Gombong, SMP Stella, dan SMP PL Salatiga, serta mengusung semangat lintas iman.
Mengangkat tema yang keras namun mendidik, *"Keraslah pada dirimu sejak dini, agar kerasnya dunia tidak kau rasakan di usia tua mu,"*

Retret ini bertujuan utama pada pembentukan mental. Menurut Mas Toni, salah satu penggerak kegiatan, tujuannya adalah menanamkan kerendahan hati dengan berani merendahkan diri.
*Eksperimen Sosial Tanpa Bekal di Malioboro*
Inti dari kegiatan EYD ini salah satu acara adalah aksi utama di mallioboro.
Eksperimen sosial yang menantang di kawasan Malioboro. Para peserta diberangkatkan ke lokasi Mallioboro tanpa bekal apapun dan harus menyelesaikan tiga misi utama yang dirancang untuk menguji batas mental dan kerendahan diri:
* Mencari & Mengumpulkan Puntung Rokok: Peserta ditargetkan mengumpulkan minimal 100 puntung rokok per anak, padahal Mallioboro dikenal sebagai kawasan larangan merokok. Aksi ini mengajarkan peserta untuk mengerjakan tugas yang dianggap 'kerendahan diri' dan sensitif.
* Secara mengejutkan, total 14.132 puntung rokok berhasil dikumpulkan oleh 45 peserta.
* Bekerja untuk Makan Siang: Peserta dituntut mandiri mencari pekerjaan di area Malioboro untuk makan siang. Satu tempat hanya boleh satu peserta. Inisiatif ini melatih tanggung jawab dan etos kerja.

Orasi Keprihatinan: Peserta wajib menyampaikan orasi tentang keprihatinan pribadi di titik-titik keramaian yang telah ditentukan, dengan durasi minimal tiga menit. Tugas ini melatih keberanian, kemampuan berbicara di depan publik, dan kepekaan sosial.
Hasil dan Harapan Masa Depan
Aksi mengumpulkan puntung rokok yang mencapai belasan ribu ini menjadi simbol keberhasilan peserta dalam menghadapi tantangan yang menuntut kerendahan diri.
“Kami berharap, dengan kegiatan ini, rasa kerendahan diri tetap melekat dan menjadi pembelajaran mental yang konkret bagi generasi muda,” ujar Mas Toni. Ia juga menambahkan harapan agar di tahun-tahun mendatang, jumlah peserta Retret Ragawidya'26 bisa meningkat lebih banyak lagi, menyebarkan semangat kerendahan diri dan ketangguhan mental.
Kegiatan Retret Ragawidya'25 ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan mental yang keras dapat dilakukan melalui metode eksperimental dan langsung bersentuhan dengan realitas sosial, imbuhnya
( Benneo)

