
Klaten, 20 November 2025 - Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang mengadakan seminar online dengan tema "Menjadi Rasul di Era Digital". Seminar ini merupakan pertemuan kelima dan diikuti oleh 27 peserta. Narasumber pada seminar ini adalah Romo Doktor Sefrianus Juhani.
Dalam paparannya, Romo Doktor Sefrianus Juhani menjelaskan bagaimana Paulus dalam pewartaannya menggunakan Agora sebagai tempat berdialog dan berdiskusi. Ia juga membahas tentang strategi identitas komunitas Kristen awal dan bagaimana Agora menjadi ruang di mana iman diuji, dijelaskan, dan diteguhkan.
Romo Doktor Sefrianus Juhani juga menjelaskan tentang tantangan dan rasul digital, termasuk etika digital dan kesadaran algoritmik. Ia membahas tentang pengertian rasul-rasul dan peran mereka sebagai saksi kebangkitan dan pewarta misi Kristus.
Peserta seminar juga mendapatkan penjelasan tentang tiga dimensi rasul, yaitu dimensi historis, teologis, dan eklesiologis. Dimensi historis merujuk pada peran para rasul sebagai dasar gereja, seperti yang dilakukan oleh para murid Yesus. Mereka menjadi sumber otoritas apostolik melalui suksesi, seperti yang dijelaskan dalam Lumen Gentium artikel 19-21.

Dalam dimensi teologis, Romo Doktor Sefrianus Juhani menjelaskan bahwa rasul-rasul berperan sebagai penyalur wahyu ilahi. Ia menyebutkan tokoh-tokoh seperti St. Agustinus, Santo Yohanes Krisostomus, dan Gregorius Agung sebagai contoh tokoh yang telah memahami dan menjalankan peran kerasulan dengan baik.
Dimensi eklesiologis merujuk pada gereja yang bersifat apostolik karena berdiri di atas dasar para rasul. Kesetiaan pada ajaran dan tradisi kerasulan diteruskan dalam gereja sepanjang zaman, dan seluruh umat beriman ikut ambil bagian sesuai panggilan dan karunia masing-masing.
Muncul pertanyaan tentang bagaimana Yesus dalam pewartaan-Nya menggunakan media. Romo Doktor Sefrianus Juhani menjelaskan bahwa Yesus menggunakan media fisik untuk menjangkau lebih banyak orang, seperti berkhotbah dari perahu sebagai strategi komunikasi yang disengaja.
Dijelaskan pula bahwa pewartaan melalui media bukan hal baru, tetapi bagian dari tradisi Yesus. Bahkan, Bapa Gereja seperti St. Agustinus dan Santo Yohanes Krisostomus telah menggunakan berbagai sarana komunikasi yang tersedia pada zamannya untuk mewartakan Injil.
Tugas-tugas rasul digital meliputi mewartakan Injil secara efektif melalui pewartaan digital yang sederhana, menyentuh hati, dan relevan dengan kehidupan. Bentuk konkret pewartaan digital dapat berupa video singkat, renungan harian, kesaksian iman, dan ruang dialog.
Tantangan dalam pewartaan digital meliputi ruang digital yang sering memihak sensasi, memicu polarisasi, dan menyebarkan berita palsu. Gereja memiliki kewajiban untuk meluruskan ajaran yang sesat dan memastikan bahwa konten iman yang beredar sesuai dengan ajaran Kristus.
Seminar diakhiri dengan sesi tanya jawab dan berkat penutup. Peserta seminar berharap dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi rasul-rasul yang efektif di era digital.
(Benneo/Pardiman)

