Di ruang-ruang kelas dan lembaran buku-buku, Perang Padri selama ini dilukiskan dengan goresan heroic. Kita mengenalnya sebagai kisah perlawanan sengit kaum ulama Minang Kabau melawan cengkraman kolonialisme Belanda.
Tuanku Imam Bonjol sebagai tokoh sentralnya, dielu-elukan sebagai pahlawan nasional. Namanya diukir dengan tinta emas dalam narasi resmi perjuangan bangsa. Namun seperti halnya medan magnet yang mempunyai dua kutub yang berseberangan, dibalik narasi heroic itu, tersembunyi sebuah fakta sejarah yang pahit dan kontroversial.
Sebuah narasi lain yang selama ini terpinggirkan, hanya berbisik tapi menyeruak dikalangan terbatas, dan membekas sebagai luka mendalam yang tak kunjung kering dalam ingatan kolektif sebuah suku bangsa; “Tragedi Penbantaian Di Tanah Batak”.
Di balik kemashuran Imam Bonjol dan Gerakan Padri, terdapat catatan kelam tentang invasi, penaklukan dan pembantaian sistematis yang nyaris memusnahkan populasi Batak Toba di awal abad ke-19. Peristiwa ini yang oleh sebagaian kalangan disebut sebagai genosida, adalah lembaran sejarah yang sengaja dilupakan, namun terus menghantui relasi antar suku hingga hari ini.
Gerakan Padri yang lahir di tanah Minang pada awal abad 19 bukanlah entitas yang monolitik. Ia berakar dari pergolakan pemikiran keagamaan. Sepulang dari Mekah, tiga orang dengan gelar haji, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang, mereka membawa angin pembaharuan islam yang puritan.
Mereka terinspirasi oleh gerakan Wahabi yang menguat di jazirah Arab, yang menginginkan pemurnian akidah dari apa yang mereka pandang sebagai praktik-praktik Sinkretis dan Bid’ah. Awalnya gerakan ini diarahkan untuk meluruskan tata cara kehidupan masyarakat Minang Kabau yang kental dengan tradisi-adat. Seperti judi, sabung ayam, dan minuman keras.
Namun idealism keagamaan yang diusung dengan penuh semangat ini segera berubah menjadi radikalisme berdarah ketika cara-cara damai dan edukatif yang dirintis oleh Tuanku Nantuo ditinggalkan. Kaum Padri yang merasa mendapat mandate agama tak segan menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak. Mereka membakar surau-surau, menyerang nagari-nagari yang menolak tunduk dan memaksa kaum adat untuk berlutut.
Puncak dari radikalisme awal ini adalah penyerbuan dan penghancuran Kerajaan Pagaruyung pada tahun 1815, sebagai pusat kebudayaan dan kekuasaan adat Minang Kabau. Sultan Arifin Munungsyah terpaksa melarikan diri, dan keluarga kerajaan banyak yang menjadi korban pasukan Padri. Tragedi ini menandai titik balik dimana api peperangan saudara di Munang kabau kemudian merembet keluar membawa terror dan kehancuran di negeri-negeri tetangga.
Setelah berhasil manuklukan wilayah Selatan Tapanuli, dan memaksa masyarakat Mandailing tunduk serta bergabung kedalam agamanya, pasukan Padri tidak berhenti. Ambisi mereka untuk menyebarkan ambisi yang mereka anggap suci dengan ujung pedang kian membara. Di bawah komendo tertinggi Tuanku Imam Bonjol, ekspedisi militer besar-besaran dilancarkan kearah utara, menuju jantung tanah Batak Toba.
Motivasi utamanya adalah islamisasi, namun bercampur aduk dengan hasrat invasi wilayah dan mungkin juga ekonomi. Mengingat tanah Batak kaya dengan hasil bumi dan berada pada jalur perdagangan yang strategis.
Sekitar tahun 1816, gelombang demi gelombang pasukan Padri yang kini diperkuat oleh para pengikut dari Mandailing yang telah di-islamkan, mulai memasuki wilayah Sipirok, Bakara, dan sekitarnya. Bagi masyarakat Toba yang masih memegang teguh kepercayaan tradisional dan struktur social yang dipimpin oleh para raja dan guru spiritual, kedatangan pasukan Padri ini bukanlah membawa cahaya, melainkan malaikat maut.
Mangaraja Onggang Parlindungan, dalam bukunya yang kotroversial, berjudul “Tuanku Rao” terbitan tahun 1964, membeberkan detil-detil mengerikan dari invasi tersebut, dengan mengutip laporan-laporan dari Belanda dan catatan dari para perwira Padri sendiri. Meskipun buku ini menuai kritik tajam, terutama dari Buya Hamka yang membantah buku Tuanku Rao dalam bukunya “Antara Fakta Dan Khayal Tuanku Rao”.
Narasi tentang kekejaman di tanah Batak tidak sepenuhnya dapat diabaikan. Sumber-sumber dari pihak Batak sendiri, seperti yang dikutip dalam teks yang diberikan Samuel Hutagalung melukiskan gambaran yang sangat suram. Invasi itu bukan perang antar kesultanan atau perselisihan territorial biasa, melainkan sebuah perang total yang bertujuan untuk meluluh-lantakan struktur social, kepercayaan dan keberadaan orang Batak Toba.
Pasukan Padri datang dengan membawa tekad untuk menaklukan atau membunuh, perlawanan sengit dari raja-raja Batak termasuk Sisingamangaraja ke-10 pemimpin spiritual dan politik tertinggi orang Batak kala itu, dengan mudah dipatahkan.
Dalam sebuah pertempuran yang menentukan, Sisingamangaraja X berhasil dipenggal oleh pasukan yang disebut sebagai “Kaum Mojo” atau “Bonjol”, dan pusat kediamannya di Bakara dihancurkan hingga tak bersisa. Jatuhnya pemimpin tertinggi Batak ini melumpuhkan semangat perlawanan dan membuka jalan bagi pasukan Padri untuk melancarkan aksi biadab mereka.
Sebuah kesaksian yang memilukan datang dari marga Daulai, seorang saksi mata dari Mandailing yang menggambarkan betapa dahsyatnya kebrutalan itu. Tidak terhitung lagi banyaknya orang yang tewas disembelih pasukan Padri. Ribuan rumah dibakar kaum Padri di kampong itu. Ribuan orang diikat pasukan Padri untuk dijual sebagai budak. Ibu-ibu dan anak-anak dirusak Padri dan mereka dibawa entah kemana. Seribuan lagi menyelamatkan diri masuk ke hutan belantara.
Ini menunjukan pola operasi yang sistematis. Pembunuhan massal, penghancuran property, perbudakan, dan kekerasan yang digunakan sebagai senjata perang. Perdagangan budak menjadi salah satu insentif ekonomi yang mengerikan dari ekspedisi ini, dimana wanita-wanita batak diculik dan dijual, menambah derita diatas penderitaan.
Bersambung…….
(Kebumian Archive: “The Padri War and the massacre in Batak – The Controversy of Imam Bonjol)-
(Dian Bagaskara)

