
IRAN MELURUSKAN:
Yang Anda sebut sebagai KERAS KEPALA, bagi kami adalah keteguhan hati dalam menjaga kedaulatan. Kami adalah bangsa yang memiliki PRINSIP yang tidak dapat diperjualbelikan, baik demi kepentingan ekonomi maupun tawaran politik semataj
Dalam sebuah kesempatan, Presiden Prabowo menyebut rakyat Iran sebagai bangsa yang "KERAS KEPALA". Namun, ia menegaskan bahwa istilah tersebut disampaikan dalam KONTEKS MEMUJI KETEGUHAN HATI dan SEMANGAT PERJUANGAN MEREKA dalam menghadapi berbagai tekanan internasional, yang menurutnya mirip dengan semangat para pendiri bangsa Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah Iran melalui kementerian luar negerinya memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan bahwa apa yang sering dianggap sebagai sikap "keras kepala" sebenarnya adalah bentuk komitmen yang kokoh dan berprinsip dalam menjaga kedaulatan negara serta nilai-nilai yang dipegang teguh oleh bangsa Iran.
"Yang Anda sebut sebagai keras kepala, bagi kami adalah keteguhan hati dalam menjaga kedaulatan. Kami adalah bangsa yang memiliki prinsip yang tidak dapat diperjualbelikan, baik demi kepentingan ekonomi maupun tawaran politik semata," tegas pihak berwenang Iran.
Di sisi lain, pemerintah Iran juga secara terbuka menyatakan sikap skeptisnya terhadap proses diplomasi global, khususnya terkait keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat. Mereka menegaskan bahwa pengalaman masa lalu membuat mereka harus bertindak sangat hati-hati dan waspada.
"Kami memasuki setiap pembicaraan dengan penuh kewaspadaan karena rekam jejak pelanggaran kesepakatan yang pernah terjadi. Bagi kami, mempertahankan kehormatan dan kepentingan nasional adalah prioritas utama," tambah sumber tersebut.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi yang menyiratkan serangan personal atau sindiran tajam yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo sebagaimana yang beredar di sejumlah media sosial. Kedua negara hingga saat ini masih mempertahankan jalur komunikasi diplomatik resmi meski terdapat perbedaan pandangan yang mendasar.
Dilansir dan dirangkum dari berbagai sumber terpercaya. (Dian Bagaskara)

